Sunday, 29 July 2012

Model Pembelajaran Jigsaw


Jigsaw adalah tipe pembelajaran kooperatif yang dikembangkan oleh Elliot Aronson’s. Model pembelajaran ini didesain untuk meningkatkan rasa tanggung jawab siswa terhadap pembelajarannya sendiri dan juga pembelajaran orang lain. Siswa tidak hanya mempelajari materi yang diberikan, tetapi mereka juga harus siap memberikan dan mengajarkan materi tersebut kepada kelompoknya.

Sesuai dengan namanya, teknis penerapan tipe pembelajaran ini maju mundur seperti gergaji. Menurut Arends (1997), langkah-langkah penerapan model pembelajaran Jigsaw dalam matematika, yaitu:

  1. Membentuk kelompok heterogen yang beranggotakan 4 – 6 orang
  2. Masing-masing kelompok mengirimkan satu orang wakil mereka untuk membahas topik, wakil ini disebut dengan kelompok ahli
  3. Kelompok ahli berdiskusi untuk membahas topik yang diberikan dan saling membantu untuk menguasai topik tersebut
  4. Setelah memahami materi, kelompok ahli menyebar dan kembali ke kelompok masing-masing, kemudian menjelaskan materi kepada rekan kelompoknya
  5. Guru memberikan tes individual pada akhir pembelajaran tentang materi yang telah didiskusikan

Kunci pembelajaran ini adalah interpedensi setiap siswa terhadap anggota kelompok untuk memberikan informasi yang diperlukan dengan tujuan agar dapat mengerjakan tes dengan baik.

Bila dibandingkan dengan metode pembelajaran tradisional, model pembelajaran Jigsaw memiliki beberapa kelebihan yaitu:

  1. Mempermudah pekerjaan guru dalam mengajar,karena sudah ada kelompok ahli yang bertugas menjelaskan materi kepada rekan-rekannya
  2. Pemerataan penguasaan materi dapat dicapai dalam waktu yang lebih singkat
  3. Metode pembelajaran ini dapat melatih siswa untuk lebih aktif dalam berbicara dan berpendapat.

Dalam penerapannya sering dijumpai beberapa permasalahan yaitu :

  • Siswa yang aktif akan lebih mendominasi diskusi, dan cenderung mengontrol jalannya diskusi. Untuk mengantisipasi masalah ini guru harus benar-benar memperhatikan jalannya diskusi. Guru harus menekankan agar para anggota kelompok menyimak terlebih dahulu penjelasan dari tenaga ahli. Kemudian baru mengajukan pertanyaan apabila tidak mengerti.
  • Siswa yang memiliki kemampuan membaca dan berfpikir rendah akan mengalami kesulitan untuk menjelaskan materi apabila ditunjuk sebagai tenaga ahli. Untuk mengantisipasi hal ini guru harus memilih tenaga ahli secara tepat, kemudian memonitor kinerja mereka dalam menjelaskan materi, agar materi dapat tersampaikan secara akurat.
  • Siswa yang cerdas cenderung merasa bosan. Untuk mengantisipasi hal ini guru harus pandai menciptakan suasana kelas yang menggairahkan agar siswa yang cerdas tertantang untuk mengikuti jalannya diskusi.
  • Siswa yang tidak terbiasa berkompetisi akan kesulitan untuk mengikuti proses pembelajaran.
Berikan komentar terbaik Anda menggunakan:



atau
Comments
4 Comments
Facebook Comments by WeBlog Ask

4 comments:

  1. info yang menarik nih sob, sepertinya ini wajib diterapkan kepada semua siswa agar siswa yg kurang mampu menerima penjelasan dari guru dapat menerima penjelasan dari teman. nice post ...

    ReplyDelete
  2. ini model pembelajaran yg tepat untuk diterapkan bagi anak sekolah yg berada di tingkat dasar khususnya bagi kelas tinggi dan kelas rendah. Terima kasih informasinya, salam kenal

    ReplyDelete
  3. masih bingung, mengenai tim ahli yg menyebar ke kelompok lain untuk menjelaskan dan kemudian kembali ke kelompok asal untuk menjelaskan. padahal kan perwakilan dari kelompok ahli itu sudah menjelaskan ke klompok lain dan mendiskusikan materi yg akan di sampaikannya ke klompok lain itu dengan klompoknya sendiri? lah terus perwakilam kelompok ahli ini menjelaskan apa ke klompoknya sendiri?

    ReplyDelete
  4. sangat jelas. tetapi saya blm bisa membedakan antara jigsaw dan STAD. mohon penjelasannya

    ReplyDelete

Terima Kasih atas komentar yang diberikan